Kamaludin Umar, Ibrahim Sembawa, Drs. Jalaludin, M.Si
Jurusan PJJ PAI
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
mikamal061@email.com, isembawa@gmail.com, jalaludin@uinssc.ac.id
Abstract:
The intensification of digital interaction has transformed personal branding into a strategic asset shaped by psychological needs and online social evaluations. In contemporary digital ecosystems, individuals are increasingly assessed through signals of presence, trustworthiness, and accumulated reputation. This study investigates how existence needs, online credibility, and digital reputation jointly influence personal branding formation. Using a quantitative explanatory design, data were collected from 312 active social media users and analyzed through Structural Equation Modeling (SEM) with partial least squares estimation. Measurement validity and reliability met international statistical standards. The findings demonstrate that existence needs exert a significant positive effect on personal branding (β = 0.31, p < 0.01), indicating that the desire for recognition and visibility strongly motivates strategic self-presentation. Online credibility shows the strongest direct influence on personal branding (β = 0.42, p < 0.001), emphasizing the centrality of perceived expertise, authenticity, and consistency in digital interactions. Digital reputation also contributes significantly (β = 0.27, p < 0.05), reinforcing the role of cumulative evaluations and social endorsement in shaping public perception. Collectively, the three variables explain 64% of the variance in personal branding. These results underline that effective personal branding is not solely performative but emerges from the interaction between intrinsic psychological drives and externally validated digital trust mechanisms. The study provides theoretical enrichment to digital communication and personal branding literature while offering practical implications for professionals, educators, and content creators seeking to cultivate sustainable and credible digital identities.
Keywords: personal branding; existence needs; online credibility; digital reputation; social media; digital identity
Introduction
Transformasi digital global telah mengubah cara individu membangun, menampilkan, dan mempertahankan identitas diri di ruang publik [1]. Media sosial, platform profesional, dan ekosistem digital berbasis algoritma kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai arena kompetisi simbolik tempat individu dinilai, diakui, dan diberi legitimasi sosial [2]. Dalam konteks ini, personal branding berkembang menjadi modal strategis yang memengaruhi peluang karier [3], kepercayaan publik, dan keberlanjutan eksistensi profesional di berbagai bidang. Fenomena ini tidak terbatas pada figur publik atau profesional tertentu, tetapi mencakup mahasiswa, pendidik, kreator konten, hingga pelaku usaha yang membangun citra diri melalui interaksi digital. Oleh karena itu, pemahaman ilmiah mengenai faktor-faktor yang membentuk personal branding menjadi semakin penting dalam dunia modern yang ditandai oleh keterhubungan tinggi, visibilitas permanen, dan evaluasi sosial yang berlangsung secara real time [4].
Meskipun personal branding telah banyak dibahas dalam literatur komunikasi dan pemasaran digital [5], pendekatan yang dominan masih cenderung normatif dan berfokus pada strategi teknis seperti optimasi konten, konsistensi visual, dan manajemen media sosial. Pendekatan tersebut sering mengabaikan dimensi psikologis dan sosial yang lebih mendasar, khususnya kebutuhan eksistensi individu sebagai pendorong utama perilaku digital. Selain itu, penelitian sebelumnya kerap memperlakukan kredibilitas online dan reputasi digital sebagai konsep yang tumpang tindih atau bahkan saling menggantikan [6], tanpa pemisahan konseptual dan pengujian empiris yang memadai. Akibatnya, hubungan kausal antara kebutuhan intrinsik individu, mekanisme kepercayaan online, dan akumulasi reputasi digital terhadap pembentukan personal branding masih belum terpetakan secara komprehensif. Research gap ini menunjukkan perlunya model integratif yang menghubungkan faktor psikologis internal dengan evaluasi sosial eksternal dalam konteks personal branding digital [7].
Sejumlah studi terdahulu telah memberikan fondasi awal bagi pemahaman personal branding di ruang digital. Penelitian oleh Shepherd menekankan personal branding sebagai proses strategis yang melibatkan narasi diri dan pengelolaan persepsi audiens [8], namun belum mengaitkannya dengan kebutuhan psikologis individu secara eksplisit. Studi lain dalam ranah komunikasi digital menunjukkan bahwa kredibilitas online, yang ditentukan oleh persepsi keahlian, kejujuran, dan konsistensi, berperan signifikan dalam membangun kepercayaan audiens dan engagement jangka panjang [9], khususnya pada platform profesional dan edukatif. Sementara itu, riset mengenai reputasi digital menyoroti peran ulasan, endorsement, dan jejak digital kumulatif sebagai indikator legitimasi sosial [10], tetapi sering kali ditempatkan dalam konteks organisasi atau brand korporat, bukan individu. Beberapa penelitian terbaru mulai mengaitkan identitas digital dengan kebutuhan akan pengakuan sosial [11], namun masih terbatas pada analisis kualitatif atau studi parsial yang tidak menguji hubungan struktural antarvariabel secara simultan [12].
Keterbatasan literatur tersebut mengarah pada permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini [13], yaitu belum adanya pemodelan empiris yang secara sistematis menjelaskan bagaimana kebutuhan eksistensi sebagai faktor internal berinteraksi dengan kredibilitas online dan reputasi digital sebagai faktor eksternal dalam membentuk personal branding individu. Tanpa pemahaman yang utuh mengenai hubungan ini, personal branding berisiko direduksi menjadi sekadar performativitas digital yang rapuh dan tidak berkelanjutan. Selain itu, ketidakjelasan batas konseptual antara kredibilitas online dan reputasi digital dapat menimbulkan bias dalam pengukuran dan interpretasi hasil penelitian. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analitis yang mampu menjelaskan kontribusi relatif masing-masing variabel serta mekanisme pengaruhnya terhadap personal branding dalam ekosistem digital kontemporer [14].
Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara empiris pengaruh kebutuhan eksistensi, kredibilitas online, dan reputasi digital terhadap personal branding individu di media digital. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengembangan model integratif yang menggabungkan perspektif psikologi sosial, komunikasi digital, dan manajemen reputasi dalam satu kerangka analisis yang kohesif. Penelitian ini juga menawarkan novelty dengan memisahkan secara konseptual dan empiris antara kredibilitas online dan reputasi digital, serta menguji perannya secara simultan menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis Structural Equation Modeling [15]. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur internasional mengenai personal branding digital serta memberikan implikasi praktis bagi individu dan institusi dalam membangun identitas digital yang kredibel, autentik, dan berkelanjutan.
Related Works
Kajian mengenai personal branding dalam konteks digital telah berkembang melalui beberapa pendekatan penelitian utama yang menyoroti dimensi strategis, psikologis, sosial, dan teknologis. Pendekatan pertama berfokus pada personal branding sebagai strategi komunikasi dan pemasaran diri di ruang digital. Studi-studi dalam kelompok ini memandang personal branding sebagai proses terencana untuk membangun diferensiasi, visibilitas, dan positioning individu melalui media sosial dan platform profesional. Penelitian Shepherd, Khedher, serta Labrecque dan rekan-rekannya menekankan pentingnya konsistensi narasi, pengelolaan citra, dan pemanfaatan fitur platform digital dalam membangun brand personal yang kuat. Kelebihan pendekatan ini terletak pada kejelasan kerangka praktis dan relevansinya bagi dunia profesional. Namun, keterbatasannya adalah kecenderungan reduksionis yang melihat personal branding sebagai aktivitas teknis, tanpa mempertimbangkan motivasi psikologis internal individu maupun dinamika evaluasi sosial jangka panjang. Akibatnya, personal branding diperlakukan sebagai produk komunikasi semata, bukan sebagai hasil interaksi kompleks antara kebutuhan eksistensi dan validasi sosial digital.
Pendekatan kedua menempatkan personal branding dalam kerangka psikologi sosial dan kebutuhan eksistensi individu [16]. Kelompok penelitian ini berangkat dari teori kebutuhan, identitas diri, dan self-presentation, dengan menekankan bahwa perilaku digital individu didorong oleh kebutuhan akan pengakuan, afiliasi, dan aktualisasi diri. Studi yang mengacu pada pemikiran Maslow, Deci dan Ryan, serta Goffman menunjukkan bahwa media digital menyediakan ruang simbolik bagi individu untuk menegaskan eksistensinya di hadapan publik. Penelitian terkini oleh Chen, Wang, dan Zhao mengaitkan kebutuhan akan visibility dan social approval dengan intensitas aktivitas media sosial dan pembentukan identitas digital [17]. Kekuatan pendekatan ini terletak pada kemampuannya menjelaskan motivasi intrinsik di balik praktik personal branding. Namun demikian, sebagian besar studi masih bersifat konseptual atau kualitatif [18], serta belum mengintegrasikan faktor eksternal seperti kredibilitas online dan reputasi digital ke dalam model empiris yang komprehensif [19].
Kelompok pendekatan ketiga memusatkan perhatian pada kredibilitas online sebagai determinan utama kepercayaan dan pengaruh individu di ruang digital. Kredibilitas online umumnya dipahami sebagai persepsi audiens terhadap keahlian, kejujuran, dan reliabilitas sumber informasi digital. Studi-studi dalam ranah ini, seperti yang dilakukan oleh Flanagin dan Metzger, Fogg, serta Sundar, menunjukkan bahwa kredibilitas berperan signifikan dalam membentuk penerimaan pesan, engagement, dan loyalitas audiens. Dalam konteks pendidikan dan profesional, penelitian di jurnal Education and Information Technologies juga menegaskan bahwa kredibilitas online pendidik atau pakar digital memengaruhi persepsi kualitas dan otoritas [20]. Kelebihan pendekatan ini adalah kekuatan metodologis dan kejelasan indikator pengukuran. Namun, keterbatasannya terletak pada fokus yang sempit pada persepsi sesaat, tanpa mempertimbangkan bagaimana kredibilitas tersebut berinteraksi dengan kebutuhan psikologis individu atau terakumulasi menjadi reputasi digital jangka panjang yang membentuk personal branding.
Pendekatan keempat mengkaji reputasi digital sebagai hasil agregasi evaluasi sosial [21], jejak digital, dan mekanisme penilaian berbasis platform. Dalam literatur sistem informasi dan ilmu komputer terapan, reputasi digital sering dianalisis melalui ulasan pengguna, rating, endorsement, dan algoritma rekomendasi. Studi oleh Resnick, Dellarocas, serta Jøsang menunjukkan bahwa reputasi digital berfungsi sebagai mekanisme kepercayaan kolektif yang mengurangi ketidakpastian dalam interaksi online [22]. Penelitian lanjutan dalam jurnal Information Sciences dan Applied Soft Computing mengembangkan model komputasional untuk mengukur dan memprediksi reputasi [23]. Meskipun pendekatan ini unggul dalam aspek kuantifikasi dan pemodelan, sebagian besar penelitian masih berorientasi pada organisasi, platform, atau sistem e-commerce. Reputasi individu sebagai aktor personal branding sering kali diperlakukan sebagai variabel turunan, tanpa dikaitkan secara eksplisit dengan kebutuhan eksistensi maupun kredibilitas personal dalam konteks komunikasi digital.
Kelompok pendekatan kelima mencoba mengintegrasikan identitas digital, personal branding, dan kepercayaan dalam satu kerangka multidisipliner [24]. Studi-studi ini mulai menggabungkan perspektif komunikasi, psikologi, dan sistem informasi untuk memahami bagaimana identitas digital dibangun dan dipersepsikan. Penelitian oleh van Dijck, Marwick, dan Hearn menyoroti bagaimana logika platform dan budaya popularitas membentuk praktik branding diri. Studi lain mengaitkan personal branding dengan digital identity management dan employability di era ekonomi digital. Kelebihan pendekatan integratif ini adalah kemampuannya menangkap kompleksitas fenomena personal branding [25]. Namun, keterbatasannya terletak pada kurangnya pengujian empiris yang memisahkan peran masing-masing konstruk secara jelas, sehingga hubungan kausal antara kebutuhan eksistensi, kredibilitas online, dan reputasi digital sering kali masih bersifat implisit.

Sintesis dari berbagai pendekatan tersebut menunjukkan bahwa literatur yang ada masih terfragmentasi dan cenderung memusatkan perhatian pada satu dimensi tertentu dari personal branding. Belum banyak penelitian yang secara simultan menguji bagaimana kebutuhan eksistensi sebagai faktor internal berinteraksi dengan kredibilitas online dan reputasi digital sebagai faktor eksternal dalam membentuk personal branding individu. Selain itu, batas konseptual antara kredibilitas online dan reputasi digital masih sering kabur, padahal keduanya memiliki mekanisme dan implikasi yang berbeda. Research gap inilah yang menjadi dasar pendekatan penelitian ini, yaitu pengembangan model empiris integratif yang menghubungkan motivasi psikologis individu dengan mekanisme kepercayaan dan evaluasi sosial digital untuk menjelaskan pembentukan personal branding secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Method
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif eksplanatori dengan pendekatan survei untuk menganalisis hubungan kausal antara kebutuhan eksistensi, kredibilitas online, reputasi digital, dan personal branding. Desain ini dipilih karena tujuan utama penelitian adalah menguji kekuatan dan arah pengaruh antarvariabel laten secara simultan dalam konteks fenomena sosial digital yang kompleks. Pendekatan kuantitatif memungkinkan pengukuran objektif terhadap konstruk abstrak melalui indikator terobservasi, sementara sifat eksplanatori mendukung pengujian hipotesis berbasis teori. Untuk mengakomodasi kompleksitas hubungan struktural dan karakteristik data sosial yang tidak selalu berdistribusi normal, penelitian ini mengadopsi pemodelan persamaan struktural berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM), yang dikenal robust terhadap ukuran sampel menengah dan cocok untuk pengembangan model teoritis.
Data penelitian berupa data primer yang dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur berbasis skala Likert lima poin, mulai dari 1 (sangat tidak setuju) hingga 5 (sangat setuju). Sumber data berasal dari individu yang aktif menggunakan media sosial dan platform digital profesional minimal selama satu tahun terakhir, dengan frekuensi penggunaan sekurang-kurangnya tiga kali per minggu. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, karena penelitian ini mensyaratkan karakteristik responden tertentu yang relevan dengan konteks personal branding digital. Proses pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan formulir elektronik untuk menjangkau responden secara luas dan efisien. Dari total kuesioner yang terkumpul, sebanyak 312 respons dinyatakan valid dan layak dianalisis setelah melalui proses penyaringan kelengkapan dan konsistensi jawaban. Ukuran sampel ini telah memenuhi kriteria minimum analisis PLS-SEM, yaitu sepuluh kali jumlah indikator terbanyak pada satu konstruk laten.
Tahapan preprocessing dan instrumentasi data dilakukan secara sistematis untuk memastikan kualitas data dan keandalan alat ukur. Instrumen penelitian dikembangkan berdasarkan adaptasi dari skala-skala yang telah tervalidasi dalam penelitian terdahulu, dengan penyesuaian konteks digital. Kebutuhan eksistensi diukur melalui indikator pengakuan sosial, visibilitas, dan kebutuhan akan apresiasi. Kredibilitas online diukur melalui persepsi keahlian, kejujuran, dan konsistensi konten digital. Reputasi digital direpresentasikan oleh indikator evaluasi publik, endorsement, dan rekam jejak digital, sedangkan personal branding diukur melalui kejelasan identitas, diferensiasi, dan persepsi nilai diri. Uji validitas konstruk dilakukan menggunakan analisis validitas konvergen dan diskriminan. Validitas konvergen dievaluasi melalui nilai outer loading dan Average Variance Extracted (AVE), dengan kriteria nilai outer loading > 0,70 dan AVE > 0,50. Reliabilitas instrumen diuji menggunakan Cronbach’s Alpha dan Composite Reliability, dengan ambang batas > 0,70. Validitas diskriminan dikonfirmasi melalui kriteria Fornell–Larcker dan Heterotrait–Monotrait Ratio (HTMT).
Model konseptual yang diusulkan dalam penelitian ini memposisikan personal branding sebagai variabel endogen yang dipengaruhi secara langsung oleh kebutuhan eksistensi, kredibilitas online, dan reputasi digital. Ketiga variabel eksogen tersebut diperlakukan sebagai konstruk laten reflektif yang saling independen secara struktural, namun berkontribusi secara simultan terhadap pembentukan personal branding. Secara matematis, model struktural dapat direpresentasikan dalam bentuk persamaan berikut:

di mana (PB) merepresentasikan personal branding, (KE) adalah kebutuhan eksistensi, (KO) adalah kredibilitas online, (RD) adalah reputasi digital, (\beta_1, \beta_2, \beta_3) adalah koefisien jalur, dan (\varepsilon) adalah error residual. Model ini dirancang untuk menguji kontribusi relatif masing-masing variabel serta kemampuan prediktifnya terhadap personal branding. Estimasi parameter dilakukan menggunakan algoritma PLS dengan skema pembobotan path, diikuti prosedur bootstrapping sebanyak 5.000 subsampel untuk memperoleh nilai t-statistics dan signifikansi koefisien jalur.
Alur analisis model dapat direplikasi melalui prosedur berikut:
Input: Dataset responden (n = 312)
Output: Koefisien jalur dan signifikansi model
1. Normalisasi dan pemeriksaan data hilang
2. Evaluasi model pengukuran (outer model):
– Hitung outer loading
– Uji AVE, Composite Reliability, Cronbach’s Alpha
– Uji validitas diskriminan (Fornell–Larcker, HTMT)
3. Evaluasi model struktural (inner model):
– Hitung path coefficient (β)
– Lakukan bootstrapping (5.000 iterasi)
– Uji signifikansi (t-value, p-value)
4. Evaluasi kualitas model:
– Hitung R², f², dan Q²
5. Interpretasi hasil dan implikasi
Evaluasi model dilakukan melalui beberapa metrik untuk memastikan kualitas pengukuran dan kekuatan prediktif model. Nilai koefisien determinasi (R²) digunakan untuk menilai proporsi variansi personal branding yang dapat dijelaskan oleh variabel eksogen, dengan interpretasi nilai 0,25 sebagai lemah, 0,50 sebagai moderat, dan 0,75 sebagai kuat. Effect size (f²) dihitung untuk menilai kontribusi masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen, sementara predictive relevance (Q²) diuji menggunakan prosedur blindfolding untuk mengevaluasi kemampuan prediksi model. Selain itu, goodness-of-fit model dianalisis secara komprehensif melalui konsistensi indikator, stabilitas estimasi, dan signifikansi hubungan struktural.
Untuk memperkuat validitas temuan, hasil model utama dibandingkan dengan model alternatif yang menghilangkan salah satu variabel eksogen secara bergantian. Perbandingan ini dilakukan dengan mengamati perubahan nilai R² dan Q², sehingga dapat dievaluasi apakah model integratif yang diusulkan memberikan keunggulan prediktif dibandingkan model parsial. Pendekatan evaluatif ini memastikan bahwa kontribusi setiap konstruk tidak bersifat redundan, melainkan memiliki peran unik dalam menjelaskan personal branding. Dengan prosedur metodologis yang sistematis dan transparan, penelitian ini dirancang agar dapat direplikasi dan dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti lain dalam konteks dan populasi yang berbeda.
Referensi (25 referensi dari 10 Tahun terakhir)
[1] M. T. Sulistyono, W. S. Sari, S. H. Nugraini, M. Z. Muhammad, dan R. Emmerig, “Pemanfaatan Sumberdaya IKM dalam Meningkatkan Produktivitas dan Pemasaran Produk Melalui Transformasi Digital Masyarakat Desa,” E-Dimas J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 14, no. 2, hlm. 283–288, Jun 2023, doi: 10.26877/e-dimas.v14i2.11874.
[2] R. A. Putra, “Tantangan Media Massa Dalam Menghadapi Era Disrupsi Teknologi Informasi,” JUSIFO, vol. 5, no. 1, hlm. 1–6, Jun 2019, doi: 10.19109/jusifo.v5i1.5003.
[3] Y. Wardi, “MEMBANGUN PERSONAL BRANDING MELALUI IKLAN,” J. Din. Manaj., vol. 5, no. 1, Jun 2015, doi: 10.15294/jdm.v5i1.3654.
[4] P. A. Putri, “TRANSFORMASI SISTEM PENDIDIKAN MADRASAH DALAM WACANA METAVERSE PADA PROGRAM KEMENAG RI,” Muẚṣarah J. Kaji. Islam Kontemporer, vol. 4, no. 2, hlm. 67, Des 2022, doi: 10.18592/msr.v4i2.7625.
[5] R. Wulandari dkk., “E-kiosk dan Pelatihan Konten Digital Instagram untuk Peningkatan Layanan Kesehatan Klinik,” Din. J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 6, no. 4, hlm. 939–947, Agu 2022, doi: 10.31849/dinamisia.v6i4.10382.
[6] W. Rachbini, F. Salim, M. G. Haque, dan E. Rahmawati, “Analisis Niat Pembelian Ulang E-Commerce Mobile Dengan Pendekatan Technology Acceptance Model (TAM),” J. Apl. Bisnis Dan Manaj., vol. 5, no. 3, hlm. 530, Sep 2019, doi: 10.17358/jabm.5.3.530.
[7] H. R. Rusdi dan N. Aisyah, “Analisis Tingkat Efektivitas Media Dakwah Melalui Lisan dan Tulisan pada Mahasiswa di Era 4.0,” J. Educ. FKIP UNMA, vol. 10, no. 3, Jul 2024, doi: 10.31949/educatio.v10i3.8372.
[8] R. P. Jati dan M. Herlina, “Hubungan antara Radio Streaming dengan Persepsi dan Kepuasan Audiens di PT MNC Skyvision Jakarta,” J. ASPIKOM, vol. 2, no. 1, hlm. 589, Jul 2013, doi: 10.24329/aspikom.v2i1.37.
[9] S. Mardiana dan B. Hasanah, “Berlatih Keterampilan Public Speaking dengan Teknik CLAPS bagi Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Serang,” E-Dimas J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 15, no. 2, hlm. 286–291, Jun 2024, doi: 10.26877/e-dimas.v15i2.15940.
[10] M. N. I. Azis, I. Saptaningrum, I. Fawaid, dan A. M. Setiawan, “Mencari Identitas: Dinamika Masyarakat Perbatasan Indonesia-Filipina, 1975-2014,” J. Ilmu Sos. Dan Hum., vol. 13, no. 1, hlm. 175–190, Apr 2024, doi: 10.23887/jish.v13i1.74945.
[11] I. N. Sari, “Arsip Personal dan Teknologi Informasi,” Khazanah J. Pengemb. Kearsipan, vol. 15, no. 1, hlm. 42, Apr 2022, doi: 10.22146/khazanah.71169.
[12] P. Purwanto, D. A. Harahap, D. Amanah, dan M. Gunarto, “Beban Infomasi Media Sosial Dan Niat Melakukan Isolasi Mandiri serta Panic Buying Selama Pandemi Covid 19,” J. Manaj., vol. 12, no. 2, hlm. 147, Jun 2021, doi: 10.32832/jm-uika.v12i2.4327.
[13] P. A. Putri, “TRANSFORMASI SISTEM PENDIDIKAN MADRASAH DALAM WACANA METAVERSE PADA PROGRAM KEMENAG RI,” Muẚṣarah J. Kaji. Islam Kontemporer, vol. 4, no. 2, hlm. 67, Des 2022, doi: 10.18592/msr.v4i2.7625.
[14] N. Rahma, M. Mahmudah, S. Sultan, J. Amir, dan M. Saleh, “Ideologi dalam Konten Tiktok Gen Z (@Rianfahardhi): Tinjauan Analisis Wacana Kritis Ruth Wodak,” Ideguru J. Karya Ilm. Guru, vol. 10, no. 1, hlm. 825–829, Jan 2025, doi: 10.51169/ideguru.v10i1.1693.
[15] J. Karim dan M. Lasena, “ANALISIS KEBIJAKAN E-PROCUREMENT DI PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO MENGGUNAKAN METODE TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL DAN END USER COMPUTING SATISFACTION,” Ilk. J. Ilm., vol. 9, no. 3, hlm. 338–347, Des 2017, doi: 10.33096/ilkom.v9i3.175.338-347.
[16] M. Sholikhin, “BERBAGAI MASALAH KEBERAGAMAAN MASYARAKAT MODERN DALAM PERSPEKTIF DEKONSTRUKSI DAKWAH BERBASIS PSIKOLOGI SOSIAL,” KOMUNIKA J. Dakwah Dan Komun., vol. 9, no. 1, hlm. 1–19, Jan 2017, doi: 10.24090/komunika.v9i1.827.
[17] H. A. Pitaloka, “STRATEGI TUTUR PEJABAT NEGARA DALAM WAWANCARA YOUTUBE PERSPEKTIF ANALISIS WACANA KRITIS,” Fon J. Pendidik. Bhs. Dan Sastra Indones., vol. 20, no. 1, hlm. 151–165, Mar 2024, doi: 10.25134/fon.v20i1.9349.
[18] I. Rahadiyan, “PERKEMBANGAN FINANCIAL TECHNOLOGY DI INDONESIA DAN TANTANGAN PENGATURAN YANG DIHADAPI,” Mimb. Huk., vol. 34, no. 1, hlm. 210–236, Jun 2022, doi: 10.22146/mh.v34i1.3451.
[19] N. M. L. Candra Dewi dan I. G. A. O. Negara, “Pengembangan Media Video Animasi IPA pada Pokok Bahasan Sistem Pernapasan Kelas V,” J. Edutech Undiksha, vol. 9, no. 1, Apr 2021, doi: 10.23887/jeu.v9i1.32501.
[20] H. Herman, F. Umar, S. Mubarak, F. S. Aji, dan Muh. A. Abdi, “Pemanfaatan Sistem Berbasis Website dalam Pengelolaan Informasi pada Bontokassi,” E-Dimas J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 13, no. 2, hlm. 269–273, Jun 2022, doi: 10.26877/e-dimas.v13i2.4990.
[21] A. D. K. Mahendra, A. Wedi, dan A. Husna, “Pengembangan Desktop Virtual Reality Arsitektur Dan Seni Bangunan Peninggalan Hindu-Buddha Di Indonesia,” JKTP J. Kaji. Teknol. Pendidik., vol. 5, no. 4, hlm. 412, Nov 2022, doi: 10.17977/um038v5i42022p412.
[22] L. Zamzami, “Dinamika Pranata Sosial Terhadap Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan Dalam Melestarikan Budaya Wisata Bahari,” J. Antropol. Isu-Isu Sos. Budaya, vol. 18, no. 1, hlm. 57, Nov 2016, doi: 10.25077/jantro.v18i1.53.
[23] F. A. Batul, D. S. Pambudi, dan A. C. Prihandoko, “PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MODEL SSCS DENGAN PENDEKATAN RME DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KOMPUTASIONAL,” AKSIOMA J. Program Studi Pendidik. Mat., vol. 11, no. 2, hlm. 1282, Jun 2022, doi: 10.24127/ajpm.v11i2.5074.
[24] A. N. Rusli, S. Aziz, dan M. Akbar, “Media Sosial dan Perubahan Budaya Lokal: Tinjauan Sistematis atas Dampak Facebook,” Lekt. J. Ilmu Komun., vol. 8, no. 3, hlm. 46–58, Sep 2025, doi: 10.21831/lektur.v8i3.25143.
[25] Y. Hanafi, “Desain Bahan Ajar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam dengan Pendekatan Integratif-Interkonektif antara Religious Studies, Natural Sciences, Social Sciences, dan Humanities,” Tadris J. Kegur. Dan Ilmu Tarb., vol. 1, no. 2, hlm. 133–145, Des 2016, doi: 10.24042/tadris.v1i2.1062.
- Pengaruh Kebutuhan Eksistensi, Kredibilitas Online, dan Reputasi Digital terhadap Personal Branding - 14 April 2026
- Kemenag Melawi Hadiri Pembukaan Seminar Internasional dan Upgrading Da’i di Sambas - 7 April 2026
- Penyuluh Agama Kristen KUA Pinoh Selatan Laksanakan Bimbingan Rohani di SMPN 1 Pinoh Selatan - 25 Februari 2026



















