Home / Artikel

Senin, 17 November 2025 - 08:31 WIB

Saya Berani Berkata: Bagi Nabi, Umat Islam yang Penting Kuantitas, Bukan Kualitas…

IPARIMELAWI.OR.ID | Judul tulisan ini mungkin menurut Anda provokatif. Tapi, ya terserah lah. Jika mau, teruskan membaca sampai selesai.

Saya awali dengan cerita si ruang kelas kuliah sekira tahun 2009. Adalah almarhum Bambang Selamet Riyadi yang akrab disapa Pak Bambang. Beliau dosen saya sewaktu kuliah di IAIN Pontianak. Beliau dengan khas lembutnya sebagaimana umumnya orang Jawa merupakan dosen yang telaten. Selain sebagai dosen Pembimbing Akademik saya, beliau adalah pengampu Mata Kuliah Metode Dakwah. Pernah beliau mengatakan: “…Kan dakwah Islam itu yang penting jumlah umat yang banyak, bukan kualitasnya”. Sebagian besar mahasiswa kurang setuju dengan pernyataan beliau, apalagi orang Indonesia sudah cocok dengan pakem: apa-apa yang penting adalah kualitas. Percuma banyak kalau tidak berkualitas.

Saya adalah termasuk orang yang mengamini dengan pernyataan beliau. Saya mengangguk ketika beliau memberikan argumen, Nabi kelak di akhirat bangga dengan umat yang banyak, bukan dengan umat yang berkualitas. Ya, karena saya hafal hadis itu. Dan bagi kami yang pernah nyantri, hadis yang beliau maksud, jika dibacakan secara lengkap, merupakan hadis yang menganjurkan menikahi perempuan yang subur.

Belakangan, saya kemudian membangun paradigma bahwa yang penting kuantitas ini dengan menambah literasi untuk memperkuat argumen. Dan saya berani berkata: Bagi Nabi, Umat Islam yang Penting Kuantitas, Bukan Kualitas…

Anda boleh tidak setuju. Tapi jika ingin membantah, silahkan patahkan argumen2 saya berikut: Nabi menjaga orang yang baru syahadat sekalipun motivasinya diragukan; beliau mempertahankan kaum munafik sebagai bagian dari umat; beliau melarang sahabat menghukum orang yang baru masuk Islam walau kualitasnya rendah; syariat memberikan jatah zakat untuk muallaf; perintah untuk segera kita tuntun jika ada orang yang mau masuk Islam, dan bagaimana teologi Islam sendiri menetapkan bahwa syahadat meskipun disertai iman yg hampir punah, masih menyelamatkan seseorang.

Pembahasan mengenai apakah Nabi Muhammad SAW lebih memprioritaskan kuantitas umat dibanding kualitasnya selalu menarik untuk diulik. Kalau kita serius baca sumber hadis dan dinamika sosial dalam sejarah awal Islam, pola yg muncul itu cukup konsisten: banyaknya umat itu penting banget di mata Nabi. Kadang-kadang cara Nabi bersikap bikin kita mikir, “Oke… yang penting daftar jadi umat Islam dulu, urusan kualitas bisa ditempa kemudian.” Dan ini bukan sekadar asumsi, ada basis tekstual dan historisnya.

Kita mulai dari hadis yang cukup eksplisit tentang perintah memperbanyak umat. Nabi menganjurkan agar menikahi perempuan yg penyayang dan subur, “karena aku ingin berbangga dengan banyaknya kalian pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i). Tidak ada embel-embel “asal berkualitas ya”. Nggak sama sekali. Fokusnya memang angka. Dari perspektif sosiologi agama, kuantitas itu modal sosial. Makin banyak penganut, makin kuat daya tahan suatu ajaran.

Lalu…. ada kisah yang sering dijadikan argumen, yakni tentang Usamah bin Zaid. Dalam sebuah pertempuran, ada seorang musyrik yang sedang terdesak lalu mengucapkan lā ilāha illallāh. Usamah tetap membunuhnya karena mengira itu cuma akal-akalan. Namun ketika laporan sampai ke Nabi, beliau sangat marah: “Apakah kamu membelah hatinya, wahai Usamah?!” (HR. Muslim). Nabi mengulang-ulang teguran itu sampai Usamah ngaku, dia berharap belum masuk Islam saking beratnya teguran Nabi saat itu. Dari sudut pandang hukum Islam, mengucapkan syahadat, apa pun motifnya, langsung mengubah status seseorang. Nabi tidak mau kualitas batin dijadikan alasan mengurangi jumlah umat.

Baca juga |  Merawat Iman di Tengah Ujian, Sukarno Dampingi Pasien Muslim RSUD Melawi

Kisah ini sering saya sampaikan ketika mengisi acara di lingkungan PCNU Kabupaten Melawi, entah saat acara pengkaderan, pengajian atau forum lainnya. Saya ingin meyakinkan, bahwa semangat NU dalam hal tidak mudah mengkafirkan orang punya landasan argumentasi yg kokoh.

Kisah lainnya tak kalah kuat: kasus kaum munafik di Madinah. Abdullah bin Ubay dan gengnya jelas-jelas ngerusak stabilitas komunitas. Secara kualitas iman? Ya ampun, drop. Tapi ketika para sahabat meminta izin untuk mengeksekusi mereka, Nabi menjawab: “Jangan! Aku tidak ingin orang-orang berkata: Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.” (HR. Bukhari-Muslim). Ini menunjukkan bahwa identitas umat harus dijaga, termasuk secara kuantitas. Nabi menolak tindakan yg bisa membuat citra umat mengecil atau terlihat saling menghabisi anggota sendiri.

Fenomena serupa tampak menjelang dan sesudah Fathu Makkah. Banyak suku Arab datang masuk Islam. Ada yg karena alasan politik, keamanan, atau sekadar ikut arus. Tapi Nabi tidak menolak satu pun. Tidak ada wawancara khusus untuk memverifikasi kualitas iman mer. Intinya masuk dulu, kualitas bisa dibina lewat tarbiyah dan waktu. Strategi dakwah yg sangat inklusif dan efektif dari sisi geopolitik.

Kisah orang Badui yang kencing di masjid juga menggambarkan sikap yang sama. Badui itu baru masuk Islam, kualitas pengetahuannya minim. Saat sahabat marah, Nabi malah berkata, “Biarkan dia. Jangan membuatnya lari dari Islam.” (HR. Bukhari). Nabi lebih memprioritaskan agar orang tersebut tetap berada dalam barisan umat, daripada langsung menilai kualitasnya.

Di luar hadis dan sirah, argumen kuantitas makin kuat kalau kita lihat ketentuan zakat dalam fikih. Golongan muallafatu qulubuhum atau orang-orang yg baru masuk Islam atau orang-orang yg hatinya ingin dikuatkan dalam Islam, secara eksplisit mendapat jatah zakat (QS. At-Taubah: 60). Ini menarik: syariat menyediakan mekanisme insentif struktural untuk menjaga agar orang yg baru masuk Islam merasa diterima, tidak kabur, dan tetap menjadi bagian dari umat. Dengan kata lain, syariat pun ikut menjaga kuantitas keanggotaan sebelum bicara kualitas iman. Bahkan sebagian ulama klasik menyebut pemberian ini sebagai strategi “mengikat hati agar tetap di dalam barisan Islam”.

Belum lagi, perintah untuk tidak menunda-nunda jika ada orang masuk Islam. Ini serius dibahas dalam Fiqih, sebagaimana sering dikampanyekan oleh Gus Baha, bahwa: Kalau ada orang mau ikrar syahadat masuk Islam, kita harus segera mengislamkannya. Nggak boleh ditunda-tunda mau ganti baju, mau bikin kopi dulu atau lain sebagainya. Karena semakin segera kita menuntunnya masuk Islam, semakin cepat dia terselamatkan dengan menjadi orang Islam. Di sini nggak perlu pula ditanya-tanya, semisal “Kamu nanti kalau sudah masuk Islam, mau jadi muslim yang taat nggak; mau shalat, puasa nggak, dsb?”

Satu argumen yang nggak kalah penting untuk menunjukkan betapa kuantitas umat punya nilai besar dalam Islam adalah soal nasib seorang Muslim di akhirat, meskipun kualitas ibadahnya buruk banget. Dalam teologi Ahlussunnah Asy‘ari–Maturidi, prinsipnya jelas: selama seseorang masih punya iman sekecil apa pun di hatinya dan pernah mengucapkan syahadat, maka dia tetap berada dalam kategori “ahlu al-qiblah”, umat Nabi Muhammad. Dan status ini nggak gugur, sekalipun dia nggak shalat, nggak puasa, akhlaknya berantakan, atau amalan lainnya minus besar.

Baca juga |  Sentuhan Iman di Ruang Perawatan, Penyuluh Agama Melawi Dampingi Pasien RSUD Melawi

Hadis-hadis sahih berulang kali menegaskan bahwa pada akhirnya, siapa pun yg dalam hatinya ada “seberat biji sawi” iman, akan diselamatkan dari neraka. Mungkin disiksa dulu, bbahkan lama, tapi ending-nya tetap: masuk surga karena kalimat “lā ilāha illallāh”. Dalam riwayat Muslim, Nabi menggambarkan bagaimana Allah akan mengeluarkan dari neraka orang-orang yg sudah hangus, tinggal arang, tapi masih punya iman sekecil biji sawi. Mereka tetap dipindahkan ke surga karena status iman itu.

Secara teologis, ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah, dan betapa rahmat itu “mengalir” melalui misi kenabian Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘ālamīn. Fokus Nabi bukan hanya menjaga umat di dunia, tapi sampai benar-benar mikirin nasib mereka di akhirat. Bahkan iman paling minimal pun dijaga, dihitung, dan dihargai. Dari sudut pandang argumen kuantitas, ini penting: keanggotaan formal dalam umat (dengan syahadat) sudah cukup untuk menjamin nasib akhir seseorang, meskipun kualitas amalnya hancur lebur.

Kalau kita lihat pola besarnya: Nabi menjaga orang yg baru syahadat sekalipun motivasinya diragukan; beliau mempertahankan kaum munafik sebagai bagian dari umat; beliau melarang sahabat menghukum orang yg baru masuk Islam walau kualitasnya rendah; syariat memberikan jatah zakat untuk muallaf; perintah untuk segera kita tuntun jika ada orang yang mau masuk Islam, dan akhirnya, teologi Islam sendiri menetapkan bahwa syahadat meskipun disertai iman yg hampir punah, masih menyelamatkan seseorang. Semua ini menegaskan satu hal: menjadi bagian dari umat itu penting, sangat penting. Bahkan penting sampai level akhirat.

Dengan kata lain, rahmat Nabi itu bukan cuma untuk orang-orang yg kualitasnya top-tier, tapi untuk semua yg memegang kalimat tauhid, bahkan dg kualitas yg paling minimal. Ini bukti bahwa dalam misi Nabi, mengumpulkan sebanyak mungkin manusia ke dalam umat Islam bukan hanya urusan duniawi, tapi strategi penyelamatan akhirat. Rahmat yg luas itu sengaja meng-cover semua, meskipun iman mereka cuma “napas terakhir”.

Kesimpulan sederhananya: dari perspektif historis-tekstual, Nabi memang menganggap kuantitas itu bagian penting dari keberhasilan misi kenabian. Bukan berarti kualitas nggak penting, tapi prioritas awalnya jelas: gabung dulu ke Islam, kualitas dibina pelan-pelan.

Faisol Abdurrahman

Share :

Baca Juga

Artikel

Pembinaan Rohani Sejak Dini, Penyuluh Agama Kristen Sambangi SDN 07 Ganjang

Agenda Kegiatan

Silaturahmi Penuh Makna Penyuluh Agama Kemenag Melawi dan Kepala SMAN 1 Pinoh Utara Perkuat Pembinaan Akhlak

Artikel

Di Balik Tirai Rumah Sakit, Penyuluh Agama Hadir Menguatkan Pasien Muslim

Agenda Kegiatan

Penyuluhan Bimtaq Bertema Fiqih Pergaulan di SMK Bina Kusuma 2 Berlangsung Khidmat

Agenda Kegiatan

Menyemai Akhlak Mulia di Sekolah Penyuluh Agama Dampingi Siswa SMPN 3 Belimbing Hulu

Agenda Kegiatan

Penguatan Iman Umat, Penyuluh Agama Katolik Kemenag Melawi Sambangi Stasi Sungai Raya

Agenda Kegiatan

Penguatan Liturgi Ekaristi, Penyuluh Katolik Kemenag Melawi Sambangi Stasi Kecukuh

Agenda Kegiatan

Merawat Iman di Tengah Ujian, Sukarno Dampingi Pasien Muslim RSUD Melawi